Tuesday, March 12, 2019

Apa kabar dunia?

Mohon maaf yg sebesar-besarnya karena sudah menghilang begitu lama. Kondisi saya saat ini sehat2 saja dan memang setiap kali saya jatuh sakit yg lain, sgot sgpt saya selalu normal dan fungsi hati saya dinyatakan baik. Waktu saya melakukan pengobatan HCV, itu sudah 10 tahun yang lalu dan memang menggunakan fasilitas askes. Banyak pertanyaan yang saya liat hari ini menanyakan pengobatan dengan menggunakan BPJS, terus terang saja saya tidak mempunyai informasi sama sekali terkait prosedur dan mekanisme pengobatan HCV dengan menggunakan BPJS. Jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Tentunya pengobatan HCV 10 tahun yang lalu kemungkinan sudah berubah dengan sekarang dengan perkembangan pengobatan yang lebih canggih. Saya hanya dapat berharap dan mendoakan bagi siapaun yang sedang berjuang melawan HCV, tetaplah semangat dan bertekun dalam pengobatannya dan doa karena anda bisa sembuh total. Seperti saya dan beberapa teman yang lain yang akhirnya menjadi teman sharing saya sampai sekarang, kami sehat. Tuhan memberkati. Salam hangat, Serbuk Bintang.

Wednesday, June 1, 2011

Apa kabar dunia?

Serasa seribu tahun lamanya saya tidak meng update status blog ini. Yah boleh dikatakan saya seperti tertimbun oleh kesibukan saya, karena saya harus mengejar banyak ketertinggalan selama menjalani terapi (hehehe...suatu alasan yg cukup bagus bukan?).

Saat ini saya tengah disibukkan oleh pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum saya menjalani cuti melahirkan. Yah benar sekali, saya tengah hamil. Sudah 33 minggu. Kabar baiknya saya dan bayi dalam kandungan saya dalam keadaan sehat. Screening terakhir atas tes hepatitis lengkap, yaitu saat usia kandungan saya 24 minggu, hasilnya negatif. Sangat menggembirakan.

Nah saat ini saya juga disibukkan untuk persiapan menunggu kelahiran malaikat kecil yang kedua ini. Terus terang saja, saya baru akan mulai berbelanja keperluan si kecil, long weekend ini. Yah, bukannya tidak antusias, tapi kebutuhan bayi yang dulu dipakai abangnya masih bisa dipakai meski si abang saat ini sudah berusia 8,5 tahun. Setelah weekend kemaren melakukan inventarisir, ternyata masih ada yang harus dibeli karena memang banyak juga barang2 si abang yang sudah diwariskan ke sepupunya. Senangnya...membayangkan pilah pilih barang-barang mungil untuk si kecil ini....

Mohon doanya ya...agar kami berdua selalu sehat dan saya dapat melahirkan dengan normal. Bagi teman-teman yang masih berjuang melawan hepatitis C, yang semangat yaaaa.....doa saya selalu menyertai....

Selamat berlibur....

Tuesday, September 14, 2010

9 bulan Pasca Terapi

Halo semua, lama tak jumpa.

Maafkan sampai lupa mengupdate status blog ini karena sudah tertimbun banyaknya aktivitas dan pekerjaan :p.

Sebulan yang lalu, saya melakukan tes HCV RNA. Hasilnya sungguh melegakan. Virus tidak terdeteksi. Dokter menyimpulkan bahwa saya sudah sembuh dari hepatitis C. Saya menanyakan apakah dengan demikian saya tidak akan sakit hep c lagi? Beliau menjawab, kemungkinan untuk terpapar virus dari orang lain tetap ada karena usai terapi/sembuh dari hep c bukan berarti saya imun terhadap hep c. Saya masih bisa tertular dari genotype jenis lain, namun dokter meyakinkan bahwa saya tidak akan tertular hep c genotype 1b lagi.

Kabar gembira lain adalah dokter telah mengijinkan kami untuk menjalani program kehamilan. Alangkah bahagianya, karena putra pertama kami sudah berumur hampir 8 tahun dan ia sudah lama mendambakan seorang adik. Nah, tanpa melupakan fakta bahwa saya tetap harus menjaga makan, minum dan olahraga saya, program ingin hamil pun dimulai :-)

Dokter mengingatkan pula bahwa Minggu ini saya akan menjalani tes hepatitis b yang mudah-mudahan masih negatif seperti hasil tes 2 tahun yang lalu. Waktu itu, sebelum terapi dimulai, saya sempat menerima vaksin hep b pertama (vaksin hep b diberikan sebanyak 2 kali berselisih 6 bulan sejak vaksin pertama). Ketika dimulai terapi dan masuk masanya pemberian vaksin kedua, dokter menyarankan melakukan vaksin setelah terapi selesai. Beliau menyarankan demikian karena kondisi tubuh saya yang lemah dan memang lebih aman untuk tidak memasukkan virus lain meski sudah dilemahkan. Nah, rencananya minggu ini saya menjalani tes anti hep b kemudian melakukan vaksin hep b. Saya bersyukur pada tes anti hep a, hasil tes menyatakan tubuh saya telah imun dari hep a.

Status terakhir, meski banyak pekerjaan kantor, mengurus rumah tangga dan bermasyarakat yang banyak, tapi saya sangat menikmatinya. Bersyukur bahwa saya diberi kesehatan untuk menjalani semuanya. Benar-benar tak ternilai. Ayo teman-teman, semangat yaaa............hidup itu sangat bernilai...ayo nikmati.

Monday, January 18, 2010

Status Terakhir: 3 Minggu Pasca Terapi

Setelah kujalani tes HCV RNA, aku melakukan tes hematologi rutin dan SGOT/PT. Dari hasil tes yang kudapat, semua menunjukkan level yang normal. Hemoglobineku naik ke level 12.7 sedangkan trombositku melesat bak roket ke angka 217 ribu. Benar-benar kabar baik. Teman-teman mulai berkomentar pipiku mulai memerah, wajahku mulai bercahaya, dan adanya tanda-tanda kehidupan. Berarti sebelumnya aku seperti mayat hidup???, ada-ada saja. Aku tersenyum penuh syukur menanggapinya. Baru kusadari bahwa kondisiku sebelumnya sangat tidak normal sehingga tidak terlepas dari pengamatan mereka.

Konsultasi terakhir dengan dokterku banyak kuhabiskan berdiskusi seputar pasca terapi. Beliau cukup puas dengan hasil tes yang dicapai. Kutanyakan tentang kemungkinan kambuhnya HCV pasca terapi. Terapi yang berhasil bukan jaminan bahwa dalam tubuh kita terbentuk imunitas atas penyakit hep c melainkan hanya membersihkan virus tersebut. Terkadang, dari hasil PCR dikatakan virus tidak terdeteksi namun sebenarnya masih ada meski jumlahnya sangat sedikit dan kondisinya sangat lemah. Untuk kasus seperti ini virus menunggu tubuh kita dalam kondisi sangat lemah sehingga virus bisa kuat dan bereplikasi kembali. Hal ini terjadi pada kelompok pasien yang disebut relapse pasien (yg hep c nya dapat kambuh, kelompok lainnya adalah responder: merespon sangat bagus pada terapi ini sehingga virus benar-benar clear, dan kelompok non responder: yg sama sekali tidak menerima terapi ini). Nah sesuai penjelasan dokter, hal ini dapat terjadi ketika pada suatu saat relapse pasien menderita penyakit tertentu dan mengkonsumsi suatu obat yang mempunyai efek samping menurunkan sistem imunitas kita. Oleh karena itu jika kita menderita suatu penyakit tertentu yang parah (tidak spesifik penyakit apa) dan dokter menyarankan mengkonsumsi obat yang memiliki efek samping penurunan daya tahan tubuh, maka kita perlu menginformasikan bahwa kita pernah terapi hep c sehingga dokter akan memberikan alternatif lain. Kewajiban kita sebagai pribadi adalah menjaga kondisi tubuh kita supaya tetap fit dengan pola hidup sehat. Beliau juga menambahkan apabila dalam terapi secara konsisten tes menunjukkan beberapa kali terakhir virus tidak terdeteksi dan interferon plus ribavirin dikonsumsi teratur tanpa putus sampai akhir terapi, maka kemungkinan kambuh hampir tidak ada. Berdasarkan riset yang ada, kambuhnya hep c pasca terapi biasanya terjadi pada pasien yang juga penderita HIV. Hal ini disebabkan HIV adalah penyakit yang menurunkan imunitas tubuh.

Kuingat saat terapi dulu dokter memperbolehkan aku makan apapun, di saat aku tidak memiliki nafsu makan. Sekarang, di saat nafsu makanku pulih, dokter malahan memberikan pantangan makanan buatku. Aku harus mengurangi konsumsi karbohidrat, lemak dan makanan yang pengolahannya dengan minyak goreng. Aku wajib mengkonsumsi susu tanpa lemak tiap hari (namun ketika kuajukan susu bear brand beliau oke-oke saja. Jelas aku senang, susu tanpa lemak kan tidak enak :p). Olahraga juga merupakan hal yang wajib, minimal 6 hari dalam seminggu jalan cepat 30 menit (minimal??? hihihihi saat ini masih bolong-bolong kujalani, rata-rata 3-4 hari seminggu). Belum lagi keharusan untuk mengatur waktu istirahatku agar benar-benar cukup dan mencoba menjauhi stress. Beliau mewanti-wanti agar aku benar-benar menjaga kesehatanku dengan melakukan pola hidup sehat.

Selanjutnya, aku wajib berkonsultasi lagi 6 bulan mendatang lengkap dengan hasil tes HCV RNA. Saat konsultasi aku juga harus menjalani USG fiber untuk melihat kondisi liverku. Aku mendengarkan dengan serius ketika menyadari ternyata masih ada juga tes-tes yang harus aku jalani pasca terapi.

Hari-hari kujalani dengan banyak aktivitas dan penuh semangat. Latihan bulutangkis dapat kujalani kembali. Latihan terakhir aku bisa main 2 set sekaligus tanpa tanda-tanda ingin pingsan :p. Naik tangga pagi menuju ruangan kantor di lantai 10 sudah mulai kulakukan. Sedikit demi sedikit, baru bisa ke lantai 7. Berkereta ria pulang dan pergi kantor pun sudah menjadi aktivitas yang menyenangkan. Pokoknya hidup mulai menyenangkan.

Memang, hidup ini indah, teman..dikala semangat selalu ada.

Monday, January 4, 2010

Tes HCV-RNA Post Suntikan ke-48

Keesokan harinya setelah ribavirin terakhir kutelan, tepatnya tanggal 26 Desember 2009, aku menjalani tes HCV-RNA. Aku selalu menjalani tes darah di lab yang sama, dan pada hari itu lab lumayan penuh. Efek terapi masih kurasakan, jadinya agak tidak sabar menunggu giliranku :p.

Hasil tes lab masih harus kutunggu 4 hari kemudian. Tak sabar rasanya. Suamikupun beberapa kali menelponku menanyakan apakah aku telah menerima hasil lab tersebut. Ketika saatnya tiba, kubuka amplop hasil tes lab sambil berjalan menuju tempat parkir. Tak tahan lagi rasanya kalau mesti melihatnya di rumah.

Sumringah rasanya ketika mengintip secarik kertas yang semula terbungkus dalam amplop kuning itu, tertulis bahwa virus HCV ku tidak terdeteksi. Kabar baik. Segera kusampaikan kabar tersebut kepada orang-orang tercinta dengan penuh rasa syukur. Akhirnya. Meski aku harus menunggu lagi tes HCV RNA post terapi berikutnya untuk mengetahui apakah terapiku benar-benar berhasil, setidaknya harapanku untuk sembuh semakin besar.

Hari-hari pun kujalani dengan penuh semangat. Bekerja. Berkumpul untuk ikut pertemuan dengan teman dan saudara menjadi kegiatan yang sangat mengasyikkan. Mengantar anakku untuk mengikuti kegiatan-kegiatannya pun sangat menyenangkan. Tak kuatir lagi aku berhadapan dengan makhluk-makhluk kecil itu, karena ketika menjalani terapi serasa mereka sangat berisik dan mengganggu :p. Jadilah aku mama kurang senyum waktu itu hehehe. Kini kunikmati saat mengobrol dan bercanda dengan mereka.

Oh Tuhan, terima kasih. Atas kekuatan yang Kau berikan. Juga rahmat Mu. Masih kutunggu belas kasih Mu selanjutnya, agar aku benar-benar sembuh.

Sunday, December 27, 2009

Saya Mulai Menjadi Diri Saya Kembali

Sudah 2 hari ini saya tidak menelan ribavirin. Pengaruhnya sangat besar saya rasakan. Saya tidak merasa mau pingsan saat di luar rumah, meski masih mudah merasa capek. Makan saya mulai banyak dan mood saya jauh lebih baik. Saya sangat menikmati bertemu dengan teman dan tetangga. Saya mulai beraktivitas fisik seperti bersih-bersih rumah dan menata sejengkal taman yang terasa amat menyenangkan. Sakit kepala datang sesekali tapi tak sehebat waktu-waktu lalu. Sudah tidak demam, badan hanya terasa hangat. Masih sulit tidur, namun rasa gelisah sudah jauh berkurang. Sakit otot masih ada. Kulit masih kering dan sering gatal. Rambut masih rontok dan kusam. Dada tak sesakit dahulu.

Aku sudah mulai bekerja. Bersih-bersih rumah. Semua kujalani secara bertahap. Sangat menyenangkan. Sangat nikmat. Kunikmati setiap detik waktu yang berjalan. Seringkali kutersenyum sendiri penuh rasa syukur. Semua yang kurasakan dan kulihat terasa nikmat dan indah. Sungguh.

Saturday, December 19, 2009

Akhirnya....Tarian Kemenanganku

Kemarin malam adalah suntikan pegasys terakhirku. Meski sempat merasa enggan dibarengi dengan suntikan EPO. Terasa sakit namun yang terakhir ini kuterima dengan sumringah. Setelah kulalui selama setahun, tiba saat terakhir jarum pegasys menembus kulitku. Ribavirin masih harus kutelan seminggu lagi untuk kemudian menjalani lab RNA. Setelahnya, saatnya terbebas dari terapiku.

Kondisi tubuhku masih lemah. Tak bisa keluar rumah lama. Merebahkan badan masih kegiatan favoritku. Masih sulit tidur, sering demam, lemas, sakit kepala dan otot. Sudah biasa...(ahhh gayanya). Tak heran, efek pegasys masih sangat kuat dan aku masih mengkonsumsi ribavirin. Aku akan berangsur lebih baik seminggu kemudian (cross finger for that)

Tapi....aku bisa tertawa lebar. Aku menang. Aku sangat bangga akan diriku sendiri. Aku mencapai garis finish marathon yang seakan tanpa ujung. Meski sempat terseok-seok terutama di putaran terakhir. Pokoknya, MENANG. Hatiku tak pernah merasa sepuas ini. Sangat NIKMAT.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih cinta: suami dan anakku, keluarga besarku, dan para sahabat. Terima kasih juga pada para pengikut blog ini yang sharing via email. Karena kalian semua aku merasa tidak sendiri dan dapat melalui semuanya ini.

Yuuk, menari lagi bersamaku. Biarkan aku yang memimpin tariannya, karena tarian ini milikku. Tarian kemenanganku.

Tuesday, December 15, 2009

Istirahat Total!

Jumat lalu suntikan ke-47, 1 lagi then......(hoorayyy!)

Sudah seminggu ini saya beristirahat di rumah. Konsultasi terakhir dengan dokter dan tes lab terakhirku membuat dokter mengambil keputusan untuk membuatku harus bedrest selama 2 minggu. Berat badanku turun lagi 0.5 kg dan LED ku naik 2 kali lipat. Aku masih harus menyuntikkan EPO sampai suntikan pegasys terakhir.

Aku harus bedrest karena bila tidak, dokter menganjurkan untuk menghentikan terapiku. Terang saja aku tak mau. Sudah hampir setahun kujalani ini. Aku tak mau berhenti begitu saja di ujung jalan ini.

Memang kondisiku sangat payah. Sangat payah. Aku tak bisa berdiri dalam waktu lama, rasanya mau pingsan saja. Badanku lemas. Dadaku sering sakit, sesak, sakit di kepala dan seluruh otot tubuhku. Aku tak bisa tidur, bahkan setelah aku meminum obat tidur yang telah diresepkan. Kujalani saja, karena kulihat banyak harapan di depan mata. Kuyakin setelah terapi ini selesai kujalani, berangsur-angsur aku akan merasa lebih baik dan dapat menjadi diriku kembali.

Ayo semangat!!!!!

Aku jalani semuanya dengan ikhlas. Aku percaya apa yang kujalani tak akan sia-sia. Kubertahan. Tinggal satu lagi.

Monday, December 7, 2009

Bagaimana Menyelamatkan Suatu Kehidupan?

Suntikan ke-46 (please mr. time.....speed up *_*, coz 2 more to go)

Minggu kemarin benar2 tantangan buatku. Seminggu tidak bekerja. Tak juga menjalankan tugas mengikuti kursus di Denpasar. Kecewa rasanya. Semua rencana selama seminggu berikut reuni bersama teman dan keluarga di pulau dewata, pupus sudah. Kembali terpurukku di sini, di peraduan tercinta T_T.

Aku mengalami demam yang datang dan pergi, diare, radang mulut, badanku sangat lemas, kepalaku dan otot-otot tubuhku sakit, mual dan parahnya aku mudah sekali marah. Aku merasa sangat tak nyaman dan serba salah. Mudah merasa terganggu oleh hal kecil, bahkan suara detak jam dinding membuatku ingin membantingnya. Karenanya, waktuku banyak kuhabiskan di kamarku, berusaha menghindari banyak kontak dengan anakku. Aku sadar, aku mengalami depresi.

Kemudian kulihat berita-berita bunuh diri di TV. Dalam beberapa hari saja ada dua kejadian bunuh diri. Keduanya di mall dan korbannya masih sangat muda. Salah satu kasus yang kucermati dikarenakan ia stress karena sakit yang tak kunjung sembuh. Hal ini merasuki pikiranku dan aku merasa mengerti apa yang ada di pikirannya.

Setelah menjalani terapi ini, aku memahami rasanya mengalami depresi. Sangat tidak enak. Sangat banyak pertentangan dalam hati dan pikiran. Aku belajar rasa ketidakberdayaan. Saat dimana aku kehilangan kontrol dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Saat itu banyak rencana yang berjalan kacau di luar kendaliku...karena efek samping terapi ini yang datang dan pergi sesuka hati. Akhirnya aku belajar apa yang disebut ikhlas. Pelajaran yang paling sulit. Aku berhasil mempelajari semuanya meski kusadar "with the hard way".

Kucoba belajar mengatasi depresi tanpa anti-depresant. Aku mengalami rasanya tidak berdaya dan stress memikirkan hal-hal negatif yang seharusnya tidak boleh terlintas di benakku. Salah satunya adalah keinginan untuk berhenti terapi. Keinginan untuk bebas dari rasa lelah tak berujung ini, bebas dari rasa sakit kepala dan otot, bebas dari rasa mual, untuk dapat berkonsentrasi dan....sekedar untuk dapat tidur nyenyak di malam hari. Semua keinginan itu seperti meracuni pikiranku. Sangat menggoda. Karena sangat mudah untuk mendapatkannya yaitu dengan menghentikan terapiku. Kemudian...tak lama, aku dapat tidur nyenyak.

Mungkin, pikiran-pikiran itulah yang merasuki para korban bunuh diri tersebut. Mereka ingin bebas dari apapun beban mereka dengan cara yang menurut mereka lebih mudah. Di saat mereka merasa tak berdaya...dan saat itu tak ada seorangpun yang dapat menolong mereka.

Aku, memiliki orang-orang terdekat yang mendukungku. Ada seorang suami yang sangat memahami kondisiku. Pendukungku dalam menjalani terapi ini. Takkan mampu kujalani ini tanpanya. Dia yang terhebat.
Anakku yang belum genap 7 tahun, dialah matahariku. Saat aku kacau, dia mau melakukan kebutuhannya sendiri dan terkadang dengan manisnya memijat kepalaku (itulah cara yang ia tahu untuk menyembuhkan sakitku). Belum lagi celoteh-celoteh lucunya yang sering membuatku tertawa.
Orang tuaku, tak kurang perhatiannya padaku. Kuyakin namaku tak putus selalu mereka sebut dalam doa.
Saudara-saudaraku, dengan caranya masing-masing menunjukkan bahwa mereka perduli padaku.
Aku pun, selalu berusaha menyemangati diriku: berdoa memohon kesembuhan dan membaca doa-doa dan bacaan-bacaan yang menguatkan.

Dengan semuanya itu seharusnya semangatku penuh. Namun entah mengapa ada suatu saat aku masih merasa sendirian dan tertekan. Saat yang sangat menyiksa. Dengan keterbatasan yang ada, kutak bisa melakukan hal-hal yang dapat mengalihkan pikiran-pikiran negatifku.

Teman-temanku pun tak kurang memberi dukungan. Lewat telpon, email atau pun SMS. Tertawa merupakan hal yang langka belakangan ini, namun mereka membuatku tertawa, berusaha melupakan apa yang kualami saat ini. Mereka semua berusaha menyelamatkan hidupku. Aku paham itu, kucoba terus berjuang dan terus berjuang. Kubertahan. Senyum dan perhatian mereka semua menguatkanku.

Aku sempat berpikir, apakah kedua korban bunuh diri itu tak memiliki semua dukungan seperti yang aku miliki? Atau kah punya, namun tak kuasa melawan semua pikiran negatif dan keinginan untuk menyelesaikan semuanya dengan cara mudah? Kalaupun mereka punya dukungan dari orang terdekat mereka, pastinya tindakan mereka ini sangat mengagetkan dan memprihatinkan orang-orang terdekat mereka.

Untukku, mereka semua yang telah kusebut sebagai pendukungku adalah penyelamat kehidupanku setahun belakangan ini. Aku sungguh beruntung. Sayang sekali tidak ada yang sempat menyelamatkan kehidupan kedua remaja tersebut. Mungkin saat ini semua keluarga dan sahabat mereka sempat bertanya-tanya: apa yang salah? Sehingga mereka seperti kecolongan kehilangan suatu kehidupan di depan mata mereka. Memang hidup dan mati di tangan Sang Pencipta kehidupan itu sendiri. Seorang dokter dan psikolog pun tak tahu pasti cara jitu menyelamatkan suatu kehidupan. Yang ada hanya usaha terbaik.

Tuesday, December 1, 2009

Please, Slow Down Your Dance Maam...

So so embarrassing to publish my condition lately.

I skip from work for two days now on. I have bad headache, nausea, muscle aches and feel boneless, so uncomfortable. I spend all day at home, try to sleep or just lay down on my bed.

I blame on myself of course. Due to Ied holiday, a long weekend, I JUST did everything I want. I JUST went shopping, helped my husband rearrange the house, even did gardening work. Phew, now I am enjoying the result....almost all day spend the time in my room.

Even, after having the EPO shot I still feel unwell. But feel better now. I want to go for work tomorrow. I promise I'll be more careful then, to take care of myself.

I just thought maybe I had mistaken to choose my dance style. I'll promise to slow down my dance. I don't want to spend another time like this again. It'll be 3 weeks more then I'll be fine. I have to be patient.

Let's dance, but please slow the dance for me....;o)

Monday, November 30, 2009

Resume PCR

Sesuai permintaan seseorang, berikut adalah resume hasil PCR saya selama menjalani terapi pegasys (interferon alfa 2a) dan copegus (ribavirin) selama hampir 1 tahun (senangnya mengingat terapi tinggal 3 kali lagi *_*).

Sebelum menjalani terapi, tepatnya 18 Oktober 2008, hasil tes HCV-RNA kuantitatif dengan metode PCR menunjukkan bahwa saya positif HCV dengan jumlah virus 1.35x10 pangkat 5 IU/mL = 5.13 Log10.

Saya memulai terapi pegasys dan copegus tanggal 24 Januari 2009. Setelah suntikan yang ke-4, sehari sebelum suntikan yang ke-5 saya menjalani tes HCV-RNA kuantitatif kembali. Saat itu hasil tes menunjukkan penurunan jumlah virus yang menyiratkan bahwa tubuh saya memberikan respon yang cukup baik terhadap terapi tersebut. Tes menunjukkan saya masih positif menderita HCV dengan jumlah virus 3.46x10 pangkat 3 IU/mL = 3.54 Log10.

Mengakhiri bulan ke-3, tepatnya setelah suntikan ke-12, sehari sebelum suntikan ke-13 hasil tes HCV-RNA kualitatif saya menunjukkan bahwa virus tidak terdeteksi. Saat itu saya merasa sangat senang, namun dokter saya mengingatkan bahwa belum ada jaminan bahwa saya akan sembuh. Saya masih harus menunggu hasil-hasil tes HCV-RNA kualitatif selanjutnya.

Di akhir bulan ke-6 masa terapi, saya menjalani tes kembali sehari sebelum suntikan ke-25. Kembali hasil tes menunjukkan virus tidak terdeteksi. Saya dan dokter yang merawat saya waktu itu merasa sangat senang. Setidaknya besar harapan saya untuk sembuh karena telah dua kali virus HCV dalam tubuh saya tidak terdeteksi.

Saya berharap, hasil tes selanjutnya yaitu setelah suntikan ke-48 (suntikan terakhir terapi saya....yay...tak sabar rasanya *_^), 3 bulan dan 6 bulan setelahnya menunjukkan tidak terdeteksinya virus HCV di tubuh saya. Itu artinya...saya sembuh total! Oh Tuhan, kabulkanlah doa saya ini....

Untuk semua teman yang sedang menjalani bab kehidupan bersama HCV....tetap semangat ya! Jangan menyerah! Berharap dan berusahalah yang terbaik! Tuhan tidak pernah tidur.

(Sedikit) Kegaduhan Tiap Tengah Malam

Dua-tiga minggu belakangan ini ada yang aneh dalam diriku :p. Tiap tengah malam aku terbangun. Aku merasa gelisah tak karuan. Kucoba untuk tidur atau melakukan hal lain namun tak juga dapat membuatku tertidur kembali. Dua hari aku sangat-sangat kurang tidur.

Hingga pada suatu malam, ketika hal itu terjadi lagi aku ambil semangkuk sereal dan segelas susu (saat itu tak ada lagi makanan yang tersisa *_^). Sambil menonton acara TV tengah malam kuhabiskan serealku. Anehnya, setelah aku selesai menghabiskan serealku, aku merasa tenang dan mengantuk. Ternyata...hihihihi...aku hanya merasa lapar. Kejadian itu terus terulang hingga saat ini. Meski aku telah makan malam dengan cukup, tiap tengah malam aku pasti terbangun untuk sekedar makan sereal, roti atau buah plus susu. Jadinya, tidur malamku berkurang lagi. Setelah dikurangi waktu untuk sering minum dan ke toilet, sekarang dikurangi lagi untuk waktunya ngemil tengah malam.

Nasib ya nasib....
Untungnya, tinggal 3 suntikan lagi......Mungkin setelah itu aku akan tidur nyenyak tiap malam. Oh alangkah senangnya...sudah tak sabar menantinya...

Kecanduanku...?

Seharusnya tulisan ini publish 2 minggu yang lalu :p

Setelah nekat tidak menebus suntikan EPO untuk sebulan penuh (akhirnya aku hanya menebus 1 suntikan saja untuk jaga-jaga), aku merasa sangat bersemangat dan percaya diri. Aku kerja tiap hari, hampir tidak pernah tidur di kantor dan pernah sekali waktu aku tiba dari kantor pukul 10.30 malam. Saat itu aku merasa sangat super power. Aku tiap malam dapat menemani anakku belajar dan bermain sepulang kerja dan aku juga sering berkunjung ke rumah orang lain yang ingin aku kunjungi. Berbelanja yang biasanya aku hindari karena menurutku sangat melelahkan, lebih sering aku lakoni walau dalam waktu yang cukup pendek.

Kemudian, suatu malam (seingatku 2 hari setelah aku pulang kerja jam 10.30 malam)sepulang kerja, tiba-tiba tubuhku menggigil, kepalaku sakit serasa mau pecah, badanku mendadak lemas dan aku merasa seluruh ototku sakit. Saat itu aku merasa sangat gelisah, persis waktu aku mengalami kritis saat menderita demam berdarah. Dengan masih mengenakan pakaian kantor, aku meringkuk di tempat tidur dengan berselimut tebal. Perasaanku sangat tidak enak. Aku kelilingi seluruh sudut tempat tidur berharap dapat merasa sedikit nyaman. Tak berhasil. Kekacauan itu terlihat oleh suami dan anakku. Suamiku membantuku menggantikan pakaianku dan membaluri badanku dengan minyak angin. Dia mulai panik karena aku tak membaik selang beberapa lama dan mulai menawariku untuk ke UGD. Aku tak mau karena kapok dirawat di rumah sakit.

Kemudian aku ingat dengan persediaan EPO di kulkas dan meminta suamiku menyuntikkannya di lengan kananku. Aku berharap hal tersebut tepat dilakukan dan berkata pada suamiku kalau memang setelah suntikan ini aku tak membaik, silahkan bawa aku ke rumah sakit. Beberapa jam setelah EPO disuntikkan, aku merasa lebih tenang. Aku mulai mengantuk dan tertidur.

Keesokan harinya, aku merasa lebih baik. Belum sanggup bekerja, namun aku merasa jauh lebih baik. Kugunakan waktu seharian untuk beristirahat di rumah. Sehari setelahnya aku bisa bekerja lagi.

Hhhhh...aku masih belum tahu apa yang terjadi di malam itu. Jadwal konsultasi ke dokterku terpaksa di jadwal ulang karena suatu hal hingga aku belum sempat menanyakannya. Mungkinkah tubuhku menagih suntikan EPO itu? Setahuku sih ketika membaca di brosurnya tidak ada efek samping ketagihan kecuali efek samping terhadap kerja jantung (makanya sewaktu menggunakan secara teratur dulu dadaku sering sakit sekali). Namun setahuku suntikan EPO ini juga sering disalahgunakan sebagai doping oleh para pekerja keras. Jadi ada kan kemungkinan aku ketagihan? Karena berhari-hari beraktivitas dengan penuh semangat, aku kecapean. Sehingga aku memang membutuhkan suntikan EPO yang dapat menambah sel darah merahku yang terus tergerus oleh terapi ini.

Saturday, November 14, 2009

Ayo, Menari di Tengah Hujan!

Semalam suntikan yang ke-43, 5 lagi ;o).

Hasil lab darah terakhirku menunjukkan peningkatan trombosit dan Hb. SGOT/P seperti biasa masih dalam level normal. Suntikan EPO benar-benar meningkatkan Hb ku hingga ke level 11. Dokterku terlihat senang dengan perkembangan ini, namun sempat tertegun melihat kondisiku yang terlihat amat lemas. Memang biasanya aku sangat bersemangat menemuinya dan aku terlihat cerewet juga sehat. Tapi waktu itu aku begitu capek dan lemas, di ruang tunggu aku sempat tertidur. Konsultasi jadinya tidak maksimal, aku hanya ingin cepat pulang dan beristirahat. Alhasil, resep EPO aku kantungi lagi tanpa diskusi lebih lanjut.

Hhhh...menyesal juga aku menyia-nyiakan konsultasi terakhirku. Sebenarnya aku ingin berdiskusi untuk melepas suntikan EPO karena satu bulan menggunakannya aku malah sering lemas tak karuan dan dadaku semakin sakit rasanya. Pernah dalam seminggu aku hanya bekerja 2 hari saja karena kondisiku itu.

Harga suntikan EPO khan tidak murah, jadi sampai aku menulis aku belum menyuntikkan EPO lagi ke tubuhku. Aku nekat karena kepepet ;p. Sebagai gantinya aku banyak makan, minum susu, madu, dan buah naga merah. Walau tidak ada pantangan, aku mengurangi drastis konsumsi makanan berlemak dan gorengan, karena makanan seperti itu memberatkan pekerjaan liverku. Aku juga banyak makan anggur dan kiwi sebagai antioksidan. Aku merasa lebih segar.

Selain dari makanan, aku juga nekat melakukan hal-hal yang ingin kulakukan. Yang masih bisa kulakukan, tentunya. Aku banyak keluar rumah, ke kantor meskipun badanku lemas dan gelisah tak karuan. Aku senang berada di sana. Walau tak dapat bekerja maksimal, berada diantara teman-teman membuatku lupa akan kondisiku :p. Aku masih sering mencuri waktu untuk tidur, dan sering lama juga....namun aku terus berangkat ke kantor. Aku tak perduli teman-teman sering mengingatkan rambutku yang awut-awutan sebangun tidur. Aku senyum-senyum saja sambil merapikan rambutku.

Perjalanan berangkat dan pulang kantor yang berat aku coba nikmati saja. Aku belajar meditasi di kereta. Di saat tak ada teman untuk membunuh waktuku, kupejamkan mataku dan mencoba berhenti berpikir. Kuyakin dengan melakukan hal itu aku menghemat banyak tenagaku sehingga rasa lemas dan pusing kepalaku tidak bertambah parah. Banyak berhasilnya tapi pernah tidak berhasil juga sehingga keluar dari kereta aku berjalan sempoyongan. Tapi aku sudah nekat, aku pasrah.

Selama ini aku berpandangan bahwa aku harus sembuh. Sehingga hal itu membebaniku. Tapi siapa sebenarnya yang mengharuskanku sembuh? Aku sendiri, dengan mempertimbangkan semua orang-orang yang aku sayangi dan segala kewajiban yang aku miliki. Aku mulai tertekan dengan target untuk sembuh tersebut. Membuatku banyak pikiran dan tidak bahagia.

Sekarang aku tak lagi mewajibkan diriku sembuh, aku tak lagi ngotot harus sembuh. Semua usaha yang aku jalani aku pasrahkan saja. Aku tak menyerah, aku tetap berusaha seperti yang sudah-sudah. Namun aku tak lagi berjuang dan berperang dengan senjataku di tengah badai ini. Aku tak ngotot dan tertekan, aku ingin bergembira. Aku ingin menari di tengah hujan badai ini. Ingin menikmati apa yang saat ini aku punya, termasuk sakit dan kelemahan yang kumiliki. Dengan keterbatasan fisik dan psikis yang ada, aku ingin tunjukkan bahwa aku masih ada. Melakukan apa yang aku bisa. Pandangan itu membebaskanku dan membawa pengaruh positif bagiku. Aku merasa bahagia akhir-akhir ini. Anak dan suamiku pun jadi terpengaruh dan kami banyak bercanda lagi di rumah.

Jadi teman, siapa yang akan menemaniku menari di tengah hujanku kali ini???

Saturday, October 31, 2009

Senyuman di Pagi Hari

Dua minggu terakhir ini mulai terasa berat. Padahal malam tadi suntikan ke-41. Tinggal 7 lagi. Kondisiku malah terasa makin menurun walau sudah ditambah suntikan EPO. Hampir tiap tiba di kantor aku butuh waktu lama untuk mengistirahatkan kepalaku dan badanku di sofa dapur kantor. Terkadang butuh waktu 3 jam! Perjalanan pulang pergi ke kantor terasa panjang dan melelahkan. Sampai di rumah pun aku hanya dapat menyediakan waktu sedikiiiit untuk anakku dan suami. Maaf, sayangku.

Kepalaku sering sekali terasa sakit dan berat. Lumayan rasanya bila disenderkan kemanapun :p. Napasku sering pendek-pendek dan memburu. Sering aku ditanya suamiku apakah asmaku kambuh karena sangat nyata terlihat. Aku yakin bukan asmaku yang kambuh, tapi begitulah adanya. Dadaku sering sakit, begitu pula otot-otot leher dan punggungku..sering tak terasa air mataku keluar untuk menahannya. Aku sering mual dan sakit perut. Aku juga sering merasa gelisah tanpa sebab. Suaraku sering bindeng atau serak, telingaku pun suka berdenging. Badanku lemas. Aku hanya ingin tidur dan tidur. Sulit sekali untuk berpikir dan berkonsentrasi. Banyak hal yang kulupa dan aku sangat sembrono dalam bertindak.

Sudah sulit menyembunyikan semuanya. Lipstik merah dan pemerah pipi tak lagi dapat menyembunyikan wajah pucat dan tubuh lemasku. Teman-teman mulai tak tahan bertanya yang kadang hanya kubalas dengan senyuman. Ibuku pun pernah berkomentar bahwa aku seperti bukan aku, seperti orang lain di matanya. Ah Ibu, aku pun rindu diriku. Diriku yang dulu.

Teman-teman dan keluarga mulai memborbardirkan perhatiannya untuk menyemangati. Dooh, aku pasti sudah parah sekali nih sampai-sampai semua kuatir. Bosku juga mulai kelihatan kuatir. Di saat aku ijin istirahat, malah ditambah bonus satu hari. Baiknya mereka.

Aku introspeksi. Mungkin semangatku mulai kendur. Semua orang menyemangati tapi mungkin diriku tidak. Sebanyak apapun sahabat dan keluarga memberi semangat, kalau diriku mengendur, tak berarti.

Gimana ya caranya? Kumulai dari bangun tidur, beberapa hari yang lalu. Setiap kali bangun tidur dan menuju kamar mandi, kumampir di cermin dan tersenyum pada bayangan cerminku. Jelek sih, dengan rambut awut-awutan dan muka kusut. Tapi wajahku lucu, akhirnya ya mau gak mau aku tersenyum, bahkan tertawa. Malu juga bila pas ketahuan anakku atau suami. Tapi aku cuek saja. Aku jadi senang. Ide tersenyum bangun tidur di cermin ini sebenarnya sudah lama kubaca dari buku karangan Ajahn Brahm. Ide bagus, berhasil memberiku semangat untuk terus bertahan. Tiap pagi aku melihat diriku yang asli. Tubuh kurus dengan wajah pucat namun masih cantik (hahahaha) dan pantas dicintai. Memang saat ini aku dalam kondisi buruk, namun kalau aku tak mencintai diriku, bagaimana aku bisa sembuh? Tiap pagi aku memupuk rasa cinta itu. Dengan cinta yang semakin besar, membuatku bersemangat untuk tetap bertahan. Kuingin makhluk di cermin itu tidak hilang cahayanya, tidak hilang senyumannya.

Hasilnya lumayan bagus. Aku mulai nekat bernyanyi-nyanyi walau nafasku sering tak sampai (kacau deh, anakku sering tertawa mendengarku). Waktu bermain dengan anakku juga bertambah. Tidak memerlukan banyak tenaga, hanya bermain scrabble dan catur. Lagi-lagi anakku menertawakanku karena kalau sudah pusing, permainanku kacau dan terkesan asal-asalan ^_*. Tak apa, toh aku dan anakku menikmatinya. Disaat tubuhku amat lemah, aku tetap usahakan keluar rumah meski hanya membonceng motor suamiku, mengamati kesibukan orang-orang. Ah, segarnya terkena angin sepoi-sepoi.

Terus terang, selain semangat spiritual dari doa dan dukungan sahabat dan keluarga...senyum dan tertawa juga membantu. Dulu aku suka tersenyum dan tertawa, akhir-akhir ini memang terasa jarang. Senyuman di pagi hari, menolongku mengingatkan bahwa aku masih bisa tersenyum dan tertawa. Kata para ahli, senyum dan tertawa menstimulasi suatu hormon yang meningkatkan daya tahan tubuh. Barangkali maksudnya senyum dan tawa bahagia, bukan karena stress :p.

Saturday, October 24, 2009

I Just Had a Bad Day

To someone out there. Thank you for the silence. Even you have noticed the changes on me, you haven't asked. You just listened everyone said bout me, watched me and concerned. Patiently, you are waiting for me. When I can't help it anymore, finally I turned to you. Thank you for saying "You only had A BAD DAY, not the whole life. Soon, the new day will come. Get a grip then hanging tough. Nothing's to worry about. I am here. I want to see YOU again."

Thank you for lending a shoulder to cry on. Sorry for hiding this from you so long.

You said everything made me comfort. To stay strong and never give up. (Maybe) this song represents your feeling bout me before I knocked on your door and what you said.

Bad Day (Daniel Powter, 2005)

Where is the moment we needed the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue skies fade to grey
They tell me your passion's gone away
And I don't need no carryin' on

You stand in the line just to hit a new low
You're faking a smile with the coffee you go
You tell me your life's been way off line
You're falling to pieces every time
And I don't need no carryin' on

Chorus:
Because you had a bad day
You're taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don't know
You tell me don't lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don't lie
You're coming back down and you really don't mind
You had a bad day
You had a bad day

Well you need a blue sky holiday
The point is they laugh at what you say
And I don't need no carryin' on
Chorus

Sometimes the system goes on the blink
And the whole thing turns out wrong
You might not make it back and you know
That you could be well oh that strong
And I'm not wrong


So where is the passion when you need it the most
Oh you and I
You kick up the leaves and the magic is lost

Chorus
You've seen what you like
And how does it feel for one more time
You had a bad day
You had a bad day

Thursday, October 15, 2009

Yuuk Lindungi Diri Anda dan Mereka

Kemarin, tanganku teriris pisau saat memotong buah melon untuk anakku. Segera saja kuhentikan aktivitas tersebut, kemudian membersihkan pisau yang mengiris tanganku dan langsung kubersihkan lukaku dan menutupnya dengan plester. Serapat mungkin. Hal itulah yang harus kulakukan apabila diriku terluka, langsung menanganinya dengan cara menutupnya serapat mungkin, segera. Hal ini adalah salah satu cara mencegah penularan hepatitis c (hep c) kepada orang lain.

Virus hep c ditularkan melalui kontak langsung dengan darah. Benda pribadi penderita hep c yang terkena kontak langsung dengan darahnya seperti jarum suntik, benda tajam, sikat gigi, alat cukur dan alat manicure, tidak boleh disharing dengan orang lain. Bagi para wanita, hati-hati dalam menangani darah menstruasinya, karena dapat juga menjadi media penularan virus hep c. Jadi ketika luka anda yang mengeluarkan darah terkena darah penderita hep c, tertularlah anda. Untuk itulah, para penderita hep c harus memberitahukan kepada dokter gigi, dokter dan paramedis, ketika menerima layanan medis, bahwa mereka terinfeksi virus hep c agar para dokter dan paramedis lebih berhati-hati melindungi diri mereka dan pasien lainnya.

Dari literatur yang saya baca, bahwa secara nyata belum terbukti adanya penularan hep c melalui hubungan seksual yang menghindari blood to blood contact. Jadi hal ini cukup melegakan untuk pasangan suami istri yang salah satunya penderita hep c. Sepanjang hubungan sex yang dilakukan sehat dan menghindari kontak dengan darah, maka penularan tidak terjadi. Namun demikian, bagi seorang pasangan yang sedang melakukan terapi interferon dan ribavirin, lebih baik dirinya tidak hamil dulu karena akan membahayakan bagi janin. Lebih baik saat menjalani terapi, gunakan salah satu atau lebih alat kontrasepsi yang aman. Saya sih, sarankan gunakan kondom selain alat kontrasepsi yang lainnya.

Untuk penularan hepatitis yang lain, tidak seperti hep c yang penularannya hanya melalui kontak dengan darah penderita (blood-to-blood contact), hepatitis a (hep a) penularannya melalui kontaminasi feces penderitanya. Sedangkan hepatitis b yang dikenal sebagai penyakit yang 100 kali lebih menular dibanding HIV, cara penularannya lebih banyak lagi. Virus hep b dapat menular melalui air mani, cairan vagina, feces, air mata, saliva, keringat, dan darah. Namun ada suatu cara supaya anda terhindar dari virus hep a dan hep b yaitu, jika anda tidak dinyatakan imun, mintalah vaksin hep a dan b kepada dokter anda. Sedangkan untuk hep c, karena vaksinnya belum diketemukannya , maka anda mesti menjaga diri anda dari penularannya.

Nah, dengan mengetahui bagaimana cara suatu virus menular, bagi yang belum tertular, kita dapat mencegahnya dengan menerima vaksin dan lebih berhati-hati. Sedangkan bagi para penderitanya, diharapkan untuk ikut melindungi masyarakat kita dari penularan hep c.

Wednesday, October 14, 2009

Dukungan Anda Sangat Berarti bagi Penderita Hepatitis C

Setelah konsultasi terakhirku dengan pak dokter yang berbuah injeksi hormon EPO, selama tiga hari badanku terasa sangat lemas dan gelisah tak karuan. Aku pun tidak bekerja selama dua hari. Tak enak rasanya sering meninggalkan tanggung jawab di kantor sehingga kuberanikan diri untuk mengirimkan email kepada kedua bosku. Isinya permintaan maafku karena sering tidak masuk kantor dan menerangkan kondisiku saat ini secara garis besar. Meski kedua bosku mengetahui bahwa aku menjalani terapi hepatitis C namun aku tidak pernah secara terbuka mengemukakan efek samping apa saja yang kualami.

Respon mereka berdua sungguh membuatku terharu. Mereka membalas emailku bahwa mereka sangat mengerti akan kondisiku meski kami tidak pernah membicarakannya, dan memakluminya. Mereka bahkan menyemangatiku untuk terus bersabar dan berjuang. Mereka mendukungku 1000%. Mereka selalu siap membantu bila aku mengalami kesulitan atas pekerjaan yang mereka delegasikan.
Mereka telah berusaha memberi tugas yang cocok dengan kondisiku tanpa mengesampingkan kompetensiku. Bahkan mereka bersedia untuk mengurangi beban kerjaku di saat kondisi fisikku memburuk :0)

Ketika keesokan paginya aku tiba kantor, bos wanitaku memelukku dengan erat dan mencium kedua pipiku dengan sungguh-sungguh. Dia berkata: kangen, 2 minggu tidak bertemu (seminggu ia bertugas ke luar negeri). Namun aku tahu maksudnya. Pasti karena emailku yang kemarin. Oh Tuhan, begitu hangat dan tulus pelukan dan ciumannya. Membakar semangatku dan menyadarkanku. AKU BENAR-BENAR TIDAK SENDIRIAN.

Selama ini aku merasa berjuang sendirian. Orang-orang di sekitarku, yang mencintai dan aku cintai...yang mendukungku...yang kusangka hanya sebagai suporter saja dalam perjuanganku....ternyata....mereka ikut berjuang bersamaku. Dalam diam mereka prihatin dan sedih akan sakitku. Namun mereka juga berusaha sekuat hati untuk membuatku merasa bahwa aku tidak berbeda dengan yang lain. Aku tidak menyadarinya. Aku merasa seakan babak belur sendirian di tengah medan perang. Tak menyadari bahwa keluarga dan teman-temanku turut babak belur membelaku melawan musuhku. Mereka juga telah mengorbankan pikiran, waktu, tenaga dan air mata untukku.

Dari pengalamanku ini aku memahami bahwa dukungan keluarga dan teman amat sangat berarti bagi penderita hepatitis c (terutama yang sedang mengalami depresi ^_^) Jangan pernah bosan menunjukkan dukungan anda kepada mereka karena mereka mengalami kebosanan mengatasi tekanan fisik dan mental akibat terapi yang mereka jalani ataupun akibat kenyataan bahwa mereka harus hidup sebagai penderita hepatitis c. Semangat yang anda berikan lewat dukungan anda akan menjadi suplemen terbaik bagi mereka. Membuat mereka bahagia. Karena saat depresi mereka lupa untuk mensyukuri saat-saat bahagia. Tugas anda untuk selalu mengingatkan mereka. Jangan bosan untuk mengatakan dan menunjukkan bahwa: ini semua akan berlalu, aku bersamamu, mendukungmu. Dijamin, hal itu akan membantu mereka untuk lebih kuat menjalani hidup mereka bersama hepatitis c.

Sunday, October 11, 2009

Epoetin's Shot

Seperti yang kuduga. Kunjunganku kali ini membuat pak dokter mengerutkan dahi. Begitu melihat hasil lab dan memeriksa kondisiku, beliau membuatkan resep injeksi lain yang harus kulakukan sendiri seminggu sekali. Waduuuuh, sempat pucat aku mendengarnya. Apalagi ini? Berarti tiap Jumat aku harus menyuntikkan 2 ampul???

Hasil tes labku buruk. Aku perlu penanganan segera untuk meningkatkan Hb dan hematokritku. Aku sempat mengatakan bahwa aku telah mengkonsumsi buah bit merah, namun kata dokter itu tidak cukup karena proses pembentukan sel darah merah dari konsumsi buah bit merah memerlukan waktu dan penambahannya tidak cukup signifikan. Efek terapiku singkatnya mengganggu pembentukan sel darah merah, bahkan menghancurkan sel darah merah yang telah jadi. Aku memerlukan penambahan sel darah merah segera. Untuk itulah dokter meresepkanku Hemapo Epoetin Alfa, hormon Erythropoietin yang menstimulasi peningkatan pembentukan sel darah merah. Semula beliau meresepkan Hemapo 4000IU, namun karena yang ada hanya 1000IU, 3000IU dan 10000IU, maka beliau memutuskan untuk memberikan yang 10000IU. Aku sempat menanyakan mengapa dokter memutuskan untuk memberiku dosis yang lebih tinggi bukan yang lebih rendah, kemudian beliau menginformasikan bahwa saat ini aku butuh "dopping" segera, kalau 3000IU tidaklah cukup. Ditambahkan lagi, terapiku tinggal 3 bulan lagi, sayang bila harus dihentikan karena Hb dan hematokritku yang terus turun.

Hemapo merupakan produk keluaran kalbe farma yang biasanya diresepkan untuk para penderita ginjal. Suntikan ini untuk mengatasi gejala anemia yang dialami oleh penderita gagal ginjal karena produksi erythropoietin (EPO) berkurang, berkurangnya darah pada saat proses cuci darah dan kekurangan zat besi serta asam folat yang penting bagi pembentukan sel darah merah. Anemia menyebabkan penderitanya mengalami pembesaran jantung, penurunan kemampuan fisik, kemampuan daya pikir, pola kebiasaan tidur, kemampuan seksual, kekebalan tubuh dan sistem perdarahan yang semuanya menurunkan kualitas hidup penderita. Suntikan ini mengandung erythropietin berkualitas tinggi yang secara efektif menambah darah. Jadi kalau dicermati mengapa dokter meresepkan aku hemapo ini, berarti aku adalah penderita anemia yang harus ditangani segera. Benar juga sih, karena aku mengalami semua gejala anemia di atas.


Sayangnya suntikan ini tidak termasuk daftar askes (dokterku sempat mengeceknya dalam buku daftar obat askes)dan setelah kutebus di apotik, 10000IU harganya mencapai Rp 599rb, aku membutuhkan 4 suntikan untuk sebulan :(. Saat aku kembali ke ruang kerja dokterku untuk training penyuntikannya, aku sempat diskusi dengan dokterku mengenai harga suntikan ini. Aku meminta alternatif lain, namun dokter mengatakan untuk produk hormon tersebut, produk inilah yang paling murah. Akhirnya beliau memutuskan bahwa untuk suntikan selanjutnya aku diresepkan dosis yang lebih rendah yaitu 3000IU (harganya sekitar Rp277rb). Lumayanlah, toh dokter berpendapat dosisi tersebut cukup buatku.

Kemudian, karena berat badanku yang turun lagi 0.5 kg, beliau memutuskan untuk mengurangi dosis ribavirin sehingga sekarang aku meminum 2 pagi 2 sore. Hal ini untuk mengurangi pusing,lemas dan rasa gelisah di pagi hari. Badanku dinilai dokter tidak mampu lagi menerima dosis pagi 3 tablet. Aku juga sambil senyum-senyum sempat meminta resep antidepressant, tapi beliau keukeuh untuk tidak memberikannya padaku. Dia mendengarkan semua curhatku dan mengatakan aku harus bersabar, 3 bulan lagi terapi ini akan selesai dan kualitas hidupku akan kembali seperti semula.

Sabar...sabar...such a magic word..tapi terkadang sulit untuk terus bersabar.

Tuesday, October 6, 2009

Hey.....biarkan saja....???

Sikap ketidakpedulianku terhadap sekitar eskalasinya mulai meninggi. Tidak dapat diragukan lagi. Aku sudah mulai tidak perduli dengan anggapan orang lain tentangku. Whatever lah. Belum lagi rasa engganku untuk melakukan hal-hal yang seharusnya merupakan pekerjaanku. Waduuh, mulai pembangkangan atau jadi pemalas nih. Apakah sikap ini menunjukkan aku mulai menuju ke anti sosial? Woow...terlalu jauh lompatannya.
Hei...tapi coba simak apa yang dikatakan literatur tentang gejala-gejala anti sosial. Diantaranya kegagalan untuk merencanakan masa depan. Nah loh, akhir-akhir ini aku seperti tidak memiliki rencana apapun ke depan, perduli akan berencana pun tidak. Semua berjalan seperti adanya saja, cenderung terkesan terlalu pasrah malah. So gejala pertama: confirmed.
Gejala kedua adalah cereboh/ketidak pedulian atas keselamatan diri sendiri atau orang lain. Gejala yang kedua sudah terjadi. Kewaspadaanku berkurang sangat dan lebih dari dua kali aku telah mencelakakan diriku sendiri dan hampir mencelakai orang lain. So it is checked.
Yang ketiga adalah tidak melakukan tanggung jawabnya berulang. Akhir-akhir ini aku malas sekali bekerja. Produktivitasku menurun dan mungkin sudah membuat bosku jengah menagih semua tanggung jawabku. Anehnya, aku seperti tidak peduli. Malah berpikir apabila bisa resign, lebih baik aku kabur dari sini. Gawat sekali yaaaa....
Jadi secara singkat apa benar nih kesimpulanku atas pribadiku yang mulai menuju pada antisocial disorder?
Terlalu pagi, tapi mulai mengkhawatirkan. Segera aku ke toko buku untuk memborong buku-buku motivasi. Aku benar-benar butuh pencerahan dan "teman". Where are they when you need them the most? Sayangnya, aku bukan tipe orang yang dengan mudahnya membicarakan kelemahanku pada orang lain. Andai saja sahabatku ada di sini. Tapi saat ini beliau juga sibuk dengan masalahnya yang lebih berat. Hanya berbekal telpon saja kami berbicara dan tertawa dalam tangis. Tak lega rasanya. Aku harus mulai "bersahabat" dengan diriku sendiri. Aku akan memulainya hari ini. Semoga dapat mengatasi kegalauan ini. Entah bagaimana cara memulainya, tapi aku akan berusaha memulainya.