Monday, April 27, 2009

Suntikan Yg ke-14

Jumat 25/4 adalah suntikan interferon yg ke-14 buatku. Sejak memasuki bulan ke-3 terapiku, efek samping yg kurasakan semakin mengganggu hari-hariku. Setiap hari aku merasakan kelelahan yg amat sangat, padahal hanya melakukan hal kecil, seperti menerangkan sesuatu pada anakku bisa membuatku ngos2an. Sungguh hidup jadi susah buatku.
Anehnya, bila kusuntikkan interferon di pangkal lenganku, aku mulai merasakan lemas keesokan harinya sedangkan bila kulakukan di perut atau pinggang rasa lemas baru datang dua hari sesudahnya.
Jumat malam sebelum kusuntikkan interferon ke tubuhku, anakku tiba2 panas. Aku panik bukan kepalang. Jangankan merawat anakku yg sakit, hari Minggu biasanya hampir seharian kuhabiskan waktuku di atas tempat tidur saja.
Saat itu suamiku membantuku menyuntikkannya ke perutku karena aku harus kuat keesokannya untuk merawat anakku yang badannya panas. Benar saja, suhu badan anakku naik turun tidak pernah stabil selama 2 malam. Aku dengan suami bergilir menjaganya. Aku giliran menjaganya siang hari, sedangkan suamiku waktu malam. Walau dengan badan lemas kupaksakan merawatnya, menghiburnya, dan mondar-mandir melayani kebutuhannya. Sungguh hari yang sangat melelahkan. Saat itu terbayang olehku, pasti hal ini sangat mudah kulakukan diwaktu sebelum terapi.
Ibu dan Bapakku datang menjenguk anakku dan membantuku merawatnya. Namun namanya juga anak, di kala sakit yang dia inginkan hanyalah ibunya...jadinya aku harus tetap siap sedia bila dia menginginkanku.
Minggu sore suhu badan anakku mulai stabil, terima kasih pada dokter jaga ugd RS waktu itu, aku mulai bernafas lega. Tak terbayang jika anakku sampai diopname dan aku harus menjaganya di RS.
Minggu malam badanku amat lemas, kepalaku sakit, leher dan pundakku juga sakit seperti ada yang mencengkeram keduanya. Sudah sejak hari Sabtu sore kuminum panadol merah untuk mengurangi rasa sakitnya namun rasa itu datang dan pergi. Karena anakku sudah mulai tenang, suamiku yang menjaganya dan aku mulai terkapar di tempat tidurku sambil sesekali menanyakan suamiku tentang keadaan anakku.
Keesokan paginya badanku rasanya masih tak karu-karuan. Aku terpaksa tidak masuk kantor karena badanku masih lemas dan kepalaku terasa berat. Tak akan sanggup aku naik kendaraan umum menuju kantorku. Aku tetap tinggal di tempat tidur sampai anakku memerlukanku. Kuminta tolong suamiku untuk menelpon teman sekerjaku untuk dibuatkan surat cuti untuk satu hari.
Meskipun malam ini rasa nyeri pada leher dan pundak serta sakit kepala masih ada, aku berniat untuk ke kantor keesokan harinya. Lama-lama aku terbiasa dengan rasa sakit ini.......yang belum terbiasa adalah rasa frustasi dan depresi yang sering menyerang akhir-akhir ini. Aku akan ingat untuk minta anti depresan pada konsultasi selanjutnya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment